Tamatan Madin Al-Mahrusiyah Foto Bersama di Kompleks Makam Syech Ibrahim Asmorokondi

Khazanah Ziarah Wali Songo Pondok Lirboyo HM Al-Mahrusiyah 2019

Tamatan Madin Al-Mahrusiyah Foto Bersama di Kompleks Makam Syech Ibrahim Asmorokondi

          Umumnya setiap tingkatan terakhir kelas formal mengadakan piknik, tamasya, camping, atau segala hal yang menyenangkan pada akhir tahun akademik, guna merefresh otak setelah berkecamuk dengan materi pelajaran. Biasanya mengunjungi destinasi wisata yang menjadi primadona, terkadang tamasya akhir tahun ini sekaligus sebagai moment perpisahan menjelang kelulusan. Menjadi penutup manis sebelum berpisah dengan teman dan Civitas Academica.

Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah Lirboyo, yang notabene menaungi pendidikan diniyah dan formal secara bersamaan menutup moment akhir sebelum  kelulusan dengan cara yang berbeda dari lembaga pendidikan formal lainya, serentak mulai dari kelas 3 Mts, 3 MA, dan 3 Aliyah Madrasah Diniyah memungkasi akhir tahun akademik dengan melakoni hal-hal spiritual yang menambah ketebalan  iman. kami menjalani rihlah Ziarah Wali 9 dan beberapa wali yang ada ditanah Jawa.

Saya bersama teman-teman tamatan mejalani perjalanan suci ini selama hari dimulai pad 27 – 30 Desember tepat di pamungkas tahun 2019. Menerabas Batas Paling timur di Makam Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, sampai ujung Barat Makam Astanajapura Sunan Gunung Jati Cirebon, dengan PO Bus Mahkota.

 

Disini saya akan menceritakan rihlah mencari berkah dalam  rangkaian  Khazanah Ziarah Wali 9 bersama kelas tingkat terakhir civitas Akademika Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah dengan menaiki 16 Bus. total 1024 santri,  Dan mengunjungi  19 Destinasi.  Terbagi dalam 6 Bus Khusus Tamatan MTs, 8 Bus Tamatan MA, dan 2 Bus Tamatan Madrasah Diniyah.

 

  1. Makam Murrobi Ruhina, KH Imam Yahya Mahrus

Sebelum memulai rangkaian perjalanan panjang, saya dan rombongan santri 16 Bus lainya, tentunya ziarah dulu kepada sang Founding Father Ma’had, KH Imam Yahya Mahrus, maqbaroh beliau terletak di PP. Al-Mahrusiyah III,  Ngampel, Mojoroto, Kota Kediri, Kurang lebih berjarak 5 KM kearah utara dari Pondok Lirboyo. Selepas Sholat Jum’at, Gus Melvien putra Ke-dua KH Imam Yahya Mengimami Tahlil,  turut hadir pula , Gus Nabil  beserta Garwo , Habib Muhammad Al-Habsyi Bersama Istri. Sebelum pelepasan Berangkat Ziarah, Gus Reza setelah memimpin Do’a berpesan kepada Santri  untuk senantiasa menjaga almamater nama baik Pondok Pesantren selama Rihlah Ziarah, Menjaga Stamina dan kesehatan, Gus Reza juga berpesan untuk selalu semangat ketika melantunkan kalimat-kalimat suci, dikarenakan di Maqbarah wali nanti sering terjadi علو الصوت “Keras-kerasan suara” maka dari itu Gus Reza berpesan ketika rangkaian tahlil bersemangat supaya tidak tenggelam diantara suara jama’ah yang lain. Kami bertolak dari ngampel sekitar pukul 15.30, menuju destinasi ke-dua.

2. Syaikh Sulaiman, Mojogung Jombang.

Perjalanan dari Kediri Jombang memakan waktu 1 Jam, Sampai ke makam Wali yang terkenal sakti ini, rombongan disambut dengan hujan semi deras, tapi tidak mengurangi Ghirah pengunjung untuk Ziarah. Wali yang juga mertua dari Sunang Gunung Jati ini dikenal sebagai tokoh yang membabat tanah Sidogiri atas titah dari Sunan Giri. Dalam kesempatan ini Gus Nabil yang  memimpin tahlil. dikarenakan saya duduk dibelakang agak tidak mendengar suara imam gegara terbentur suara rintikan hujan. Bermula dari titik inilah saya berkeinginan duduk didepan disetiap ziarah selanjutnya.

Rombongan tidak berlama-lama di area makam syekh sulaiman ini, hujan nampaknya menjadi alasan yang menjadi mereka keburu masuk Bus. Ditambah ada larangan dari panitia untuk tidak membeli PENTOL yang menggoda disepanjang area parkir makam ini.  Khazanah Ziarah selanjutnya ke Kota Penuh sejarah, Mojokerto.

 

 

3. Syekh Jumadil Kubro, Trowulan Mojokerto.

Disepanjang perjalanan menuju makam, mata saya dimanjakan dengan peninggalan-peninggalan sejarah zaman kerajaan Majapahit, banyak bangunan kuno bertebaran dikanan kiri jalan, menyerupai candi dan arsitektur khas  Hindu-Budha. Hujan nampaknya masih tak ingin berjauhan dengan rombongan kami, namun berkat inisiatif faiz khulla, yang menyempatkan diri membawa benner bekas yang muat untuk memayungi 6 orang menghindarkan kami dari basah kuyup. Atas arahan panitia, santri putra menuju Makam berjalan sejauh 300 M. Dan santri putri diwajibkan ngojek.

Sesampainya diarea makam, saya langsung ndeloyor mencari tempat terdepan, supaya bisa khusu’ mengikuti rangkaian tahlil dan do’a. Benar saja sewaktu  melantunkan Qosidah ‘salamullah ya sadah‘ jiwa saya nampak bergetar, airmata tak bisa kutahan untuk keluar, entah apa yang saya alami, pokoknya yang timbul dipikiran saya teringat dengan dosa-dosa yang saya lakukan. Kemudian saya menundukan kepala supaya tak terlihat oleh jama’ah lain jika saya lagi menangis sesenggukan. Di Maqbaroh ini saya tepat duduk dideretan terdepan hanya terpaut dari Gus Nabil yang menjadi imam.  

FYI (For Your Information ), Syekh Jumadil Kubro merupakan leluluhur Walisongo, karena dari beliau-lah  lahir Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi yang merupakan ayah Sunan Ampel, dan dari Sunan Ampel lahir wali-wali penerus. Dari Beliau juga lahir Sayyid Maulana Ishaq ayah dari  Sunan Giri. Radius dakwah Syekh Jumadil Kubro amatlah luas, sebelum menginjak tanah jawa pada tahun 1399 M. Syekh Jumadil Kubro sudah melalang buana Dakwah ke Negeri Samarkhand  ( sekarang wilayah Uzbezkistan ) , Bukhoro,  Champa, dan Muanghtai (Thailand) .

Apesnya, menuju pulang, dititik ini benner kami hilang, dan memaksa kami berbasah sampai parkiran. Sebelum naik bus saya sempatkan membeli Pentol yang standby didekat bus kami.

 

 

 

 

4.  Syaikhona Kholil bin KH. Abdul Lathif Bangkalan, Madura.

 Singgah di Mojokerto agak memakan waktu lama dan memaksa perjalanan kami melebar dari waktu yang telah ditentukan. Selanjutnya, take off dari Mojokerto Sekitar pukul 8 malam, melintasi perjalanan panjang 3 Jam di Bus, saya memanfaatkan dengan membaca Novel Hati Suhita yang sengaja kusiapkan untuk mengisi waktu lenggang selama perjalanan panjang ini.

Syaikhona Kholil, tokoh yang sudah tidak asing lagi ditelinga para santri, Apalagi Santri Lirboyo, bahkan Mbah Manab, pendiri Pondok Lirboyo sebelum kembali kehadiratNya, beliau berwasiat ” Doangakne Aku diakui santrine Mbah Kholil.” menggambarkan betapa agungnya Syaikhona Kholil dimata Mbah Manab. Bahkan santri Lirboyo saking ta’dzimnya kepada Syaikhona, sering berjalan kaki dari Lirboyo ke Bangkalan guna tabarukan ke Makam  Mbah Kholil, apalagi bagi yang sedang menghafalkan 1002 Nadzom Alfiyah, disamping Ziarah santri yang lagi ‘nyewu’ belum mantap hafalanya jika belum disetorkan ke Syaikhona Kholil.

Tengah malam sampai di Bangkalan, yang membuat saya terheran adalah, parkiran bus yang tidak jauh berbeda manakala saya datang terakhir kali tahun 2016 silam, dimana keadaan becek belum ada aspalisasi ataupun pavingisasi, padahal ribuan pengunjung hilir mudik setiap harinya, nampaknya hal ini perlu  segera mendapat tindakan dari Pemda setempat. 

Dimakam Beliau agenda Kami Ziarah sekaligus jama’ ta’khir, selesai itu saya teringat titipan teman yang ingin dibawakan air barokah yang ada disebelah kiri Masjid. Sebelum bertolak dari makam Syaikhona, kertas  selembar yang saya gunakan untuk mencatat moment penting selama Ziarah yang kemudian menjadi tulisan yang anda baca sekarang ini hampir habis, menoleh kanan kiri untuk mencari penjual buku tulis, namun nihil hasilnya yang ada pedagang sate dan marchendise khas Madura. Terpaksa saya harus memanfaatkan seefektif mungkin kertas yang tersisa.

5. Makam KH Utsman Al-Ishaqi Jatipurwo Surabaya.

 Sepulang dari Makam Syaikhona, saya mengurungkan niat untuk tidak tidur, meskipun sudah memasuki 1/3 Malam, saya ingin menikmati panorama malam Pulau Madura dari balik kaca Bus Mahkota, meskipun yang terlihat cuma gemerlap cahaya lampu jalan.

Manakala Melintasi Jembatan Suramadu nampak Kontras Disparasi antara Kota Surabaya yang berada di Pulau Jawa dan Kota Bangkalan yang berada di Pulau Madura, kota Surabaya terlihat lebih mencolok dengan gemerlap cahaya dan bangunan pencakar langitsedang Kota Bangkalan agak gelap gulita, hanya terlihat lampu kapal nelayan dan beberapa cahaya dari rumah warga yang berada di pesisir. Oh ya, Tips saya bagi Supir PO Bus ketika  melintasi Jembatan Suramadu sebaiknya agak mengurangi kecepatan, supaya Penumpang dapat menikmati pesona Jembatan terpanjang di Indonesia ini.

KH Utsman Al-Ishaqi, merupakan ayahanda dari Ibu Nyai Zakiah Miskiyah, garwo KH Imam Yahya Mahrus. Beliau merupakan Mursyid Thoriqoh Al-Qodiriyah  Wan Naqsabandiyyah memiliki Guru yang dicintai yaitu KH Romli Tamim, Rejoso Jombang. Jika diurut Keatas nasab beliau dari ibu sampai ke Sunan Giri, dan dari ayah beliau sampai ke Sunan Gunung Jati.  Maka tak heran jika beliau memiliki kecerdasan diatas rata-rata, dan juga memiliki Karomah sedari kecil, dikisahkan beliau waktu kecil sering keluar rumah ba’da Mahrib dan baru pulang jam 11 malam dengan badan penuh lumuran lumpur, ternyata setelah diselidiki, beliau berada disungai dan didekap oleh seekor Buaya Putih.

Maqbaroh beliau terletak di Pondok Pesantren Darul Ubudiyah, Jatipurwo, Surabaya Jawa timur berada diantara komplek perumahan warga,  dikarenakan lokasi  pondok tidak dapat menampung parkir 16 Bus rombongan kami, maka rombongan diturunkan diarea parkir Makam Sunan Ampel,untuk perjalanan menuju ke Maqbaroh beliau, ISTIKMAL ( Ikatan Silaturahmi Keluarga Alumni Al-Mahrusiyah ) Surabaya Sudah menyediakan Angkot Pulang Pergi. Solidaritas Alumni yang ada di Surabaya dan sekitarnya ini menjadi sebuah rutinan tahunan Khusus menyambut rombongan Ziarah dari Pondok Al-Mahrusiyah.  

Sampai di makam beliau pukul 02.30, Gus Melvien mengimami tahlil dan Gus Reza mempimpin do’a. Yang membuat saya semangat melantunkan tahlil  dimakam beliau adalah manakala Ibu Nyai Zakiah 
turut Ziarah, Gus Nabil, Ning Rifa ( Garwo Gus Reza ), dan Ning Nikita (Garwo Gus Nabil ) juga turut menyertai beliau.

FYI, Setiap Haul Yai Utsman,Santri Al-Mahrusiyah selalu ikut hurmat haul beliau, tahun ini saja 7 Bussantri putra-putri Al-Mahrusiyah berangkat ke Surabaya dalam rangka Hurmat salah satu kyai yang  masuk dalam 4 Tokoh Al-Mahrusiyah ini.

 

 

6. Raden Rahmat, Sunan Ampel Surabaya

 Telah disebutkan diatas, Sunan Ampel sebagai tokoh paling sepuh dan berpengaruh diantara Wali 9 lainya, dari Pesantren Ampel Denta yang didirikanya, Sunan Ampel mendidik penuh kader penerus perjuangan Dakwah Islam, diantaranya Sunan Giri, Raden Patah, Raden Kusen, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan banyak wali-wali lainya. Beliau juga sebagai inisiator yang berani dakwah di lingkungan keluarga kerajaan Majapahit.

Karena Jumlah rombongan kami ribuan, menjadikan pintu masuk menuju makam full almamater berwarna Hijau, bahkan sampai di Lokasi makam, santri Putra terpaksa masuk ke area peziarah Putri. Selepas Tahlil & Do’a di makam Sunan Ampel, beberapa santri menyempatkan ziarah ke Makam Sunan Bolong yang letaknya di sebelah kanan  pintu masuk, meskipun Sunan Bolong tidak masuk dalam schedule ziarah, para santri kadung mengetahui betul kisah Wali yang  bisa melihat langsung Ka’bah dari Pengimaman ini, kisah Mbah Bolong sendiri sudah Masyhur dikalangan Santri.

 

Selesai Ziarah, Lanjut Sholat Subuh Jama’ah, setelah itu langsung menuju parkiran, namun sebelum pulang banyak yang menyempatkan diri untuk sarapan, dengan sekedar membeli gorengan ataupun membeli nasi bungkus 5000-an , sekedar mengganjal perut untuk perjalanan selanjutnya.

7. Syekh Ainul Yaqien, Sunan Giri, Gresik Jatim. 

Perjalanan Surabaya-Gresik hanya memakan waktu 1 Jam, turun dari parkiran langsung dirubung oleh tukang ojek dan Dokar, untuk menuju maqbaroh, pengunjung harus menempuh jarak 500 Meter, ksli ini saya memilih ngojek dengan tarif Rp. 10.000. Setelah itu harus berjuang lagi naik menapaki ratusan anak tangga.

Karena menunggu santri putri yang tak kunjung datang, saya mengajak Alvin memanfaatkan waktu luang untuk menyusuri area sekitar makam, nampak bayak dijumpai Peninggalan Sejarah, maklum Sunan Giri dahulu merupakan Raja sekaligus Guru Suci yang memiliki peranan penting dalam mengepakan sayap keislaman, bahkan sejarah mencatat perjuangan dakwah beliau selain di Pulau Jawa sampai ke daerah Banjar, Martapura, Pasir, Kutai di Pulau Borneo. Buton dan Gowa di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara hingga ke Maluku.

Di samping Masjid tedapat museum kecil, dan Perpustakaan, sayang sekali keduanya tutup, saya sempat mengintip dari pintu kaca perpustakaan, didalamya terlihat masih sedikit  koleksi pustakanya , padahal Perpustakaan ini amat vital bagi pengunjung, bisa berfungsi sebagai pengusir rasa letih setelah menaiki ratusan anak tangga.

Karena tahlil dan do’a tak kunjung terlaksana, banyak santri yang mandi menikmati dinginya air di Giri Kedaton ini. Ada juga yang menikmati sejuknya hawa dengan Ngopi di ruko-ruko sepanjang gerbang sebelum masuk makam.

 

Di makam Sunan Giri ini, saya hampir saja duduk dibelakang, sebelum akhirnya saya membuntut rombongan Mustahiq yang kedatanganya  membelah  Jama’ah untuk memberi jalan supaya  sampai tempat duduk didepan yang sebelumnya telah di sediakan Panitia. Tahlil yang di Imami Pak Edi, Guru MA. sangat antusias diikuti oleh santri, bisa jadi stamina mereka kembali pulih setelah diberi waktu rehat hampir satu jam untuk mandi dan Sarapan. Selanjutnya Masih di Kota Gresik, menyisir pesisir pantai utara Laut Jawa.

8. Syekh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Gresik

Makam Maulana Malik Ibrahim yang terletak di Pusat Roda perekonomian Kota Gresik, mengharuskan Pemkot menyediakan Parkiran Bus jauh di Luar lokasi makam, tepatnya di 2 KM ke utara area Makam, tepat di bibir laut jawa, dari titik parkiran ini kemudian membayar ongkos tiket seharga Rp. 8.500 Pulang-Pergi untuk menaiki Bus Damri sampai ke Lokasi Makam.

Disepanjang perjalanan menuju makam, kita bisa melihat lalu lalang roda perekonomian Kota Gresik, mulai dari Pasar, Industri, Alun-alun Kota, kantor Pemerintahan, hingga Kapal Tongkang yang lagi sibuk bongkar muat.

Dimakam Beliau, saya mengambil tempat duduk terdepan dan bersamaan itu Ibu Nyai Zakiah rawuh, sebuah keberuntungan bagi saya bisa duduk dibelakang beliau langsung, berasa sejuk ditengah terik Kota Gresik. Cuaca panas yang luar biasa menjadi rezeki tersendiri bagi warung-warung disekitar makam dan parkiran. Apalagi meyeruputi es di area Parkir Bus, sambil menikmati pemandangan lepas laut  Laut Jawa.

9. Raden Qosim, Sunan Drajat Paciran Lamongan

Selama Rihlah di Kota Gresik agak berasa letih di badan, disebabkan jarak antar makam yang dekat, tidak sempat badan ini untuk Recovery. Nah, lepas dari Kota Gresik destinasi selanjutnya agak banyak waktu luang untuk istirahat meskipun cuma 2 jam Perjalanan, tepatnya menuju Sunan Drajat, Paciran Lamongan.

FYI, Waliyullah Putra Sunan Ampel dan Adik Sunan Bonang ini masyhur sebagai tokoh yang mengembangkan Dakwah melalui pendidikan Akhlak, memilki kepedulian tinggi terhadap fakir miskin, Solidaritas dan gotong royong. Beliau juga mengajarkan tehknik membuat rumah dan tandu.

Jarak makam dan parkiran tidak terlalu jauh, kita hanya perlu berjalan sekitar 250 M. Tempat tahlil yang agak kurang lebar menjadikan makam ini dipenuhi lautan almamater biru Santri Al-Mahrusiyah , Gus Melvin mengimami tahlil dan Gus Reza yang memimpin Do’a, seperti biasa saya duduk tepat dibelakang beliau, sambil membiarkan air Aqua yang sudah tercampur Do’a terbuka didepan dudukq, berharap barokah Do’a-do’a beliau. Sepanjang perjalanan menuju parkiran lidah kita terpaksa sering-sering menelan ludah, karena disuguhi pelbagai macam kuliner Seafood yang menggoda. Wajar karena lamongan masuk diwilayah Pesisir. Destinasi Selanjutnya adalah kota tuban, perjalan singkat menuju makam Syekh Asmoroqondhi. Hanya perlu waktu 1 Jam, karena waktunya singkat, kami memanfaatkan fasilitas Karaoke di dalam Bus, bersama melantukan lagu kenangan dan lagu Ambyar. Sambil menikmati pemandangan laut di sebelah kanan jalan.

10. Syekh Ibrahim Asmarakhandi, Palang Tuban.                         

 Kedatangan rombongan rihlah kami  disambut dengan deburan ombak laut jawa yang mulai nampak pasang, hal ini dikarenakan letak makam Syekh Asmoroqondi menghadap langsung ke Laut Jawa, menambah ghirah untuk lebih semangat Ziarah.

Beliau merupakan Ayahanda Sunan Ampel, diperkirakan lahir di Samarkhand, Asia Tengah pada paruh kedua abad 14. Letak makamya di Desa Gresikharjo, Kec. palang, Kab. Tuban Jatim. Sebelum ziarah saya dan kawan-kawan sholat jama’ Ta’khir dulu , sampai disini hari mulai senja, cocok untuk membersihkan badan sambil rebahan sebentar , karena banyak jasa yang menyediakan WC umum besertaan tempat rehat.

Sesampainya dimakam , rombongan kami tumpek blek memenuhi area makam, bahkan disini ada larangan untuk tidak menggunakan pengeras suara, mengingat jama’ah kami ribuan, larangan itu tak berlaku untuk rombongan kami.  Di makam-makam wali lain yang ada larangan untuk tidak menggunakan suara nampaknya tidak berlaku apabila rombongan santri Lirboyo yang ziarah, sudah menjadi maklum bisa jadi kami mndapat Kaidah “Kullu Qoidatin Mustasnayat”. 

Gus Reza yang memimpin ziarah diikuti suara semangat yang menggelora oleh santri, tiada suara lain yang terdengar selain lantunan kalimat suci dari rombongan kami. Diarea makam ini sekaligus menjadi moment muwada’ah bagi siswa tamatan Tsanawi, biasanya diisi sarasehan dan foto bersama.

11.  Sunan Bonang,  Raden Makdum Ibrahim.

 

Masih di Kabupaten Tuban, beliau merupakan Putra Sunan Ampel dan tentunya cucu dari Syekh Ibrahim Asmorokondi. Beliau wafat di Pulau Bawean pada tahun 1525 M. Sebelum dimakamkan, Jenazah beliau sempat diperebutkan antara Masyarakat Tuban dan Bawean. Akhirnya di makamkan di barat Masjid Agung Tuban.

Perjalanan menuju makam beliau diharuskan naik becak sejauh 1 KM. Berangkat Rp. 10.000 pulang Rp. 15.000. Saya sempat bertanya ke pengayuh becak yang saya tumpangi, ternyata ada 500an tukang becak yang mangkal menuju area makam, tentu ini menjadi ladang rezeki bagi warga sekitar, selaras dengan tujuan dakwah Sunan Bonang dahulu yang melalui jalur mensejahterakan masyarakat.

Cungkup makam beliau yang rendah memaksa saya menunduk saat melantunkan Qosidah sebelum Ziarah, Mungkin filosofisnya menuntut kita untuk tawadu’, merendah. Di Area Makam sunan Bonang ini ada larangan bagi Santri Al-Mahrusiyah untuk tidak nongkrong di Alun-alun maupun Masjid Agung ( Sunda : Pamali ).

Sebelum lepas dari tuban, kami mengisi amunisi perut Disekitar parkiran, karena setelah ini akan take off menuju Sunan Muria, kira-kira perjalanan 5 Jam. Tidak terbayang jika ditengah perjalanan kelaparan. Karena Medan di Sunan Muria agak Ekstrim, saya diperjalanan langsung terlelap, mengisi tenaga semaksimal mungkin supaya kuat sampai puncak Muria.

  

12. Raden Umar Sa’id , Sunan Muria Kudus Jawa Tengah.

Mengingat Tubuh yang lelah, Hati yang gundah , sampai sendi-sendi badan mengajak pisah, sampai di penginapan sunan Muria sekitar pukul 2 Malam saya langsung Merebah.

Bangun pukul 5 pagi, ternyata saya paling terakhir bangun, langsung beranjak mengambil air wudu yang dinginya merasuk sampai tulang, setelah itu langsung menuju ke Pangkalan ojek, karena untuk jalan kaki naik keatas, waktunya tidak akan nuntut.

 Dikarenakan area makam yang sempit, rombongan kami yang putra menempati tempat khusus dilantai pertama, sedangkan jama’ah santri putri di Masjid Sunan Muria, dalam artian kami tidak bisa melihat langsung makam beliau.

Disini saya coba ingin melihat langsung  buah parjoto, buah yang menambah kesuburan bagi wanita yang diceritakan di Novel Hati Suhita, ternyata benar, disini banyak ditemukan pedagang yang menjual, selain itu juga ada kayu yang bisa mengusir tikus namanya kayu Naga.

Kami Pulang ngojek lagi dengan tarif  Rp. 15.000, sebenarya saya agak ragu, teringat kisah ziarah 3 tahun yang lalu, motor yang melaju menuruni gunung sangat kecang, padahal kanan jalan jurang yang teramat dalam, belum lagi ketika harus berpapasan dengan pengendara lain. Namun saya memaksakan diri demi efektifitas waktu dan efisiensi tenaga. Syukurlah, tukang ojek kali ini nampak tenang mengendaranya, kebutanya masih dalam tingkat kewajaran. Jantung sayapun tak begitu berdebar. Bahkan saya bisa menikmati pemandangan indah yang tersaji dari jalur ini. Sampai dibawah saya bersama Pak Dian Fahrurrozi langsung mencari Warung Kopi, sambil menghirup udara segar pagi hari khas  pegunungan Muria.

 

13. Raden Ja’far Shadiq, Sunan Kudus 

 Setelah semalaman merasakan dinginya pengunungan Muria, akhirnya dapat menikmati hangatnya Kota Kudus,  turun dari bis kita akan disajikan 2 tiket, Becak dan Ojek, saya lebih suka naik ojek, karena bisa menikmati suasana Kota Kudus. Saya termasuk datang pertama, sambil menunggu yang lain datang, kami memanfaatkan dengan ber Wefie ria dibawah Menara Masjid Kudus.

Sunan Kudus selain dakwah lewat agama, juga berhasil memajukan roda perekonomian masyarakat Melalui penyempurnaan alat-alat pertukangan, kerajian emas, pande besi, serta membuat keris pusaka. Beliau dikeanal sebgai wali yang tegas dalam menjalankan syari’at Agama, maka tak heran beliau dipilih sebagai eksekutor Ki Ageng Pengging dan Syekh Siti Jenar. Beliau juga dikenal sebagai tokoh yang memimpin penyerangan Ibukota Majapahit serta berhasil mengalahkan sisa-sisa pasukan kerajaan tua yang sudah sangat lemah ini.

 

Arsitektur sekitar Makam sangat Indah, bernilai seni tinggi,  hasil kombinasi Islam-Hindu, bata berwarna merah nampak mendominasi bagunan yang tertata. Sebenarya tamatan saya  ingin berfoto ria dengan latar belakang Menara, namun saking ramaiya pengunjung niat itu kami urungkan gegara menggangu jalan.

14. Sunan Kali Jaga , Kadilangu Demak 

Sunan yang paling saya Gemari, ialah Sunan Kali Jaga, saya dari  atas bus sudah ber i’tikad untuk duduk paling depan, dan akhirnya terkabulkan, meskipun harus menunggu rombongan Ziarah lain bubaran.

Kecintaan saya pada Sunan Kalijaga tumbuh manakala membaca sejarah beliau di Buku, Majalah, sampai di Layar Lebar. Sunan Kalijaga banyak berperan dalam perkembangan kerajaan  Islam, wabilkhusus peran beliau dalam berdirinya Kerajaan Pajang dan Mataram Islam.

Apalagi filosofinya tentang ajaran Jawa, Yang paling saya ingat adalah pesan beliau “Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman( Jangan Terobsesi oleh ambisi meraih Jabatan, Harta, dan Kepuasan Manusiawi ).

Sunan Kalijaga acapkali menyebarluaskan Faham Islam melalui ajaran kesenian,  Ajaran beliau sampai sekarang yang familiar, adalah ajian Asma Kidung, sebuah ajaran yang berfaidah untuk menolak bala’, Menolak Santet, Pagar diri, dan berbagai gangguan gaib lainya.

Salah satu  karya monumental Sunan Kali Jaga adalah sebuah tiang tatal di Masjid Agung Demak, beliau membuat tiang tersebut dari serpihan pecahan kayu yang disusun rapi. Tiang asli tersebut sekarang tersimpan di Museum Masjid Demak. Membahas Sunan Kalijaga, seolah tiada habisnya, karena bisa di kaji dari berbagai sudut pandang, baik Religi, Supranatural, Kebudayaan, Sejarah bahkan secara Riset Scientific.

 

Gus Melvien memimpin tahlil dan dipungkasi dengan do’a oleh Gus Reza. Santri nampak semangat menggelorakan suaranya, meskipun cuaca teramat panas.

15. Raden Fatah, Demak

Masih di Kabupaten Demak, selanjutnya di Makam Sang Raja Pertama Kesultanan Demak, beliu keturunan Raja Brawijaya, Raja Terakhir Majapahit. Masa Kecil Raden Patah tumbuh di Palembang, hingga saat beliau memasuki masa dewasa, diminta menjadi Bupati Palembang menggantikan ayah tirinya,  namun beliau lebih memilih Mengembara ke Pulau Jawa, mendalami Khazanah Ilmu Islam dan berguru ke Sunan Ampel Bersama Saudara tirinya Raden Kusen, sampai pada Akhirnya beliau menjadi Raja Pertama Kesultanan Demak.

Jarak Menuju Makam dari Parkiran Sekitar 1 KM. Kali ini saya meimilih naik kereta tak berapi, alias Dokar, tarif Rp. 5.000/ orang, Kuda yang menarik Dokar kami nampak berbeda, warnanya Albino, mengetahui nama sikuda ini menjelang turun, saat Pak Kusir memanggilnya ‘Slamet’.

 

Selesai Ziarah, Rombongan kami langsung Jama’ Ta’khir di Masjid Agung Demak yang penuh nilai Historis ini, setelah itu banyak yang memanfaatkan dengan foto-foto, karena area makam yang langsung berhadapan dengam alun-alun amat Isntagramable untuk mengabadikan Moment. Apalagi didukung dengan hawa senja, menambah Pesona untuk berfoto ria.

16. Masjid Al-Muttaqin Kaliwungu, Kendal

 Menjadi sebuah tradisi, setiap Khazanah Ziarah Pondok Lirboyo Al-Mahrusiyah pasti ada Destinasi yang Khusus untuk bersilaturahmi, dan edisi Khazanah tahun ini, kami Sambung Silaturahmi di Pondok APIK, Kaliwungu Kendal Asuhan KH M. Sholahuddin Humaidulloh. Alumni Lirboyo tahun 2001. Kedatangan kami disini disambut di Masjid Al-Muttaqien, Santri Apik nampak santun menyalami kami setelah itu memberi Nasi kotak. disini kami rehat agak lama, ditMBh dengan guyuran hujan deras, sekitar 3 Jam, santri banyak yang memanfaatkan dengan membersihkan Badan, Rebahan, Mencari Makan, hingga Ngopi di Pinggiran Alun-alun. Selanjutnya kami akan menyusuri perjalan malam Kendal-Cirebon, yang memakan waktu 6 Jam, untung saja selama Rihlah Ziarah ini lewat jalan Tol, bisa meringkas waktu dan menebas batas seefisien mungkin.

17. Syekh Ali Gedongan, Cirebon

Nama beliau tak terlalu masyhur di Khalayak umum, namun di kalangan santri Lirboyo, beliau amat dikenal, karena beliau merupakan ayahanda KH Mahrus Ali Penerus Pondok Lirboyo. Syekh Ali berasal dari Wotbogor, Singaraja, Indramayu, putra dari  KH Abdul Aziz, pengasuh Pondok Pesantren Wotbogor.

 Setelah 4 tahun mengenyam pendidikan di Makkah, sepulangnya Beliau dinikahkan dengan Ibu Nyai Hasinah, Putri KH.Said, dari sinilah KH Mahrus Ali & KH Said Aqil Siradj masih ada ikatan darah.

Di Gedongan beliau didapuk untuk mengembangkan pesantren Mertuanya. Beliau  dikruniai Sembilan anak yang salah satunya adalah KH Mahrus Ali.

Rombongan kami sampai di Pondok Gedongan masuk 1/4 Malam, sekitar pukul 03.00 WIB. Berbeda dengan Lirboyo dan Pondok ala Jawatimuran lainya, jam segini Pondok Gedongan teramat sepi, tidak ditemukan santri yang lagi ngopi maupun Ngaji. Menuju makam kami harus berjalan 300 M. Makam beliau terletak dipemakaman umum, dikijing bersama makam Dzuriah lainya. Gus Reza mengimami Tahlil & do’a ditemani oleh salah satu Dzuriah Gedongan dan dikawal beberapa Kader Banser Cirebon.

Saya sarankan jika Himasal ( Himpunan Alumni Santri Lirboyo) ataupun Istikmal memimpin Jama’ah ziarah Wali 9, alangkah baiknya sekalian ziarah di makam Bapak dari Guru Kita ini, Syekh Ali. Selesai Ziarah, kami Jama’ah Sholat Shubuh, setelah itu menempuh 1 Jam Perjalanan menuju Makam Sunan Gunung Jati.

18. Syekh Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati Cirebon.

Destinasi Ziarah terakhir, Syekh Syarif Hidayatullah, saya mendapat hal baru disini, dimana saya baru pertama masuk gerbang dan sampai naik keatas sampai ke area makam utama, karena dua kali ziarah ke makam beliau sebelumnya, saya hanya bisa Ziarah dari bawah.

Setelah memasuki gerbang pertama, kami naik bukit kecil kira-kira 100 M. Makam beliau terletak didalam pagar merah, menurut kabar yang saya peroleh dari Nahdo, teman saya, untuk masuk ke dalam pagar tembok merah ini memerlukan izin tertulis langsung dari Kasepuhan Cirebon, dan itupun tidak sembrang orang bisa dizini.

Sunan Gunung Jati dikenal dengan salah satu tokoh wali 9 yang menurunkan sultan-sultan Banten dan Cirebon.  Relasi dakwah beliau teramat luas, beliau menggalang hugungan dengan tokoh-tokoh besar. Strategi beliau mempekuat politis melalui jalur Pernikahan dengan Kesultanan Cirebon, Banten, dan  Demak.

Jika diruntut keatas, nasab keluarga Bani Mahrus Lirboyo sampai ke Sunan Gunung Jati. Disebabkan destinasi terakhir, setelah Gus Melvin memimpin tahlil, Gus Reza melanjutkanya dengan Istigotsah, dan di pungkasi dengan Nasihat beliau. 

Selesai Agenda Ziarah, wajah santri nampak sumringah, karena agendanya adalah belanja oleh-oleh, dengan dikasih durasi waktu 3 Jam. bagi santri yang rumahnya Cirebon  ada juga yang di sambangi oleh Keluarganya, seperti yang dialami Wahyudi teman tamatan saya, dia disambang Ibu, bapak, serta adik-adiknya, dan sekalian membawakan sarapan bagi kami, penghuni Bus J.  Bahkan Ahmad Jazuli menyempatkan diri pulang dan menjenguk keluarganya, karena rumahnya yang hanya berjarak kurang lebih 5 KM dari komplek makam.

Setelah semua membeli oleh-oleh, perut kenyang sehabis sarapan, badan bersih, kami langsung Sayonaraa, kembali ke Pondok Lirboyo Al-Mahrusiyah tercinta. Diperjalan pulang ini saya menghatamkan Novel Hati Suhita, karya Ning Khilma.

Selesai sudah Rihlah Ziarah Pondok Pesantren Lirboyo Al-Mahrusiyah, saya berharap  selama ziarah 4 hari ini mendapat barokah dari beliau-beliau, Menjadi Tamatan yang Khusnul Khotimah, mendapat ilmu yang bermanfaat, ilmu yang barokah Ma’a salamah, zaujatan Sholihah Ma’a Jamilah. Aamin

Dan rombongan kami menginjakan kaki di Bumi Salafi Lirboyo hari Senin Terakhir tahun 2019 pukul 21.30, dengan sehat wal afiat. Sekian tulisan saya, semoga memberikan manfaat bagi pembaca budiman semua, mohon maaf apabila ada kurang atau lebihnya, kesalahan tanda baca, atau kurang sopan tata bahasanya.

 

Wasalamualaikum Wr. Wb.

 

Ahmad Nahrowi, 3 Aliyah Madin Al-Mahrusiyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *