Mengenal diri kita sendiri merupakan sebuah hal yang harus di penuhi oleh setiap individu kita, seperti yang tertuang dalam kalam hikmah ulama tasawuf  : 

   مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَف رَبَّه 

Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia

telah mengenal Tuhannya.”

 Dari kalam hikmah diatas kita dianjurkan untuk mengenal segala hal apapun didalam diri kita, entah itu kebaikan didalam kita, keburukan kita, sifat-sifat kita, ataupun potensi yang ada didalam jatidiri kita. Setelah kita mengetahui jatidiri kita, maka jalan untuk mengenal tuhan akan lebih mudah.

Salah satu perkara yang ada didalam dirikita adalah nafsu, dari situ penulis akan menyajikan nafsu yang mersemayam didalam diri kita, dengan mengutip Kitab Tanwirul Qulub karya Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi, Sebelumnya perlu kita ketahui, Kitab Tawirul Qulub adalah kitab yang masyhur di kalangan pesantren di Indonesia. Lebih-lebih pesantren salaf. Kitab ini terbagi kedalam 3 pembahasan utama. Pertama, bagian Aqidah yang terdiri atas 3 bab. Kedua, bagian Fiqih terdiri atas 11 bab yang dibagi menjadi 92 pasal dan ketiga, bagian Tasawwuf dibagi atas 22 pasal.

Dalam kesempatan kali ini penulis akan membahas bagian tasawuf yang menjelaskan tingkatan nafsu dalam kitab tersebut, didalam kitab Tanwirul Qulub nafsu dibagi menjadi tujuh tingkatan, berikut pembagiannya :

1.         Nafsu Amarah  (النفس الأمارة  )

Nafsu amarah adalah nafsu yang condong/ fanatik kepada thabiatnya badan seperti kemauan mata, telinga, tangan, kaki sehingga nafsu ini mengarah pada sesuatu yang sifatnya bersenang-senang, syahwat, ambisi yang mengarah kepada sesuatu yang dilarang agama. Sehingga dapat membimbing hati anda semua kepada arah kehinaan sehingga nafsu saat itu menjadi sumber
kejahatan, sumber keburukan, dan sumber akhlak yang tercela seperti  sifat sombong, tamak, ambisi, dengki (iri hati), emosi, pelit dan pendendam. Maka martabah/ tingkatan nafsu yang model
seperti ini adalah efek nafsu terlalu mendominasi sebelum adanya mujahadah. (Memerangi hawa nafsu, Bersungguh-sungguh mendekatkan diri pada Allah SWT )

2.         Nafsu Lawwamah ( النفس اللوامه )

Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang  mulai terang dengan cahaya hati namun tidak maksimal  cahaya hati tersebut menerangi nafsu, di satu sisi dia taat pada kecerdasan akal dan di sisi lain dia ingkar. Pada akhirnya nafsu ini sering menyesal ketika sudah terlanjur pada jurang kenegatifan, mencaci dan mencela dirinya sendiri. Kemudian menjadi sumber penyesalan karena ketika itu nafsu
lawwamah menjadi penyebab permulaan terhadap kejatuhan dan kerakusan. Ketika mujahaddah lagi menjadi nafsu mutmainnah atau ibaratnya setengah sadar melakukan hal tercela namun kemudian menyesal di akhir perbuatan.

3.         Nafsu Mutmainnah  ( النفس المطمئنة  )

Nafsu mutmainnah adalah nafsu yang sudah terang dengan cahaya hati sehingga nafsu itu lepas dengan sifat-sifat yang tercela jadi cahaya hati yang menerangi hati itu sudah maksimal. Semakin tenang menuju kesempurnaan, jadi nafsu ini menjadi pemula kesempurnaan yang menjadi jalan
yang menuju akhlak dan suatu hal yang positif. Orang yang memiliki nafsu ini dia sudah mulai mabuk/ terhembus oleh badai wishol yang sudah berhubungannya dengan Allah. Bahkan ketika seseorang mempunyai nafsu seperti ini, ia tak melirik apapun godaan tercela dalam hidupnya.

4.         Nafsu Mulhamah ( ألنفس الملهمة )

Nafsu ini sudah diberikan ilham berupa pengetahuan, tawadu’ kerendahan hati, qonaah dan menerima apa adanya dan tidak pelit. Nafsu ini menjadi sumber kesabaran mengemban amanat, titah dan perintah dan selalu bersyukur. Nafsu ini menjadikan seseorang lebih bisa menerima apa adanya dengan pemberian sang pencipta, meski terkadang tak sesuai dengan apa yang diinginkan.

5.         Nafsu Rodhiyyah  ( النفس الراضية)

Nafsu ini selalu ridha kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad dan nafsu ini selalu memasrahkan diri kepada Allah. Nafsu ini lebih tinggi dari nafsu mulhamah.

6.         Nafsu Mardhiyyah ( النفس المرضية )

Nafsu mardhiyyah adalah nafsu yang bukan hanya ridha kepada Allah tapi juga Allah ridha kepada dirinya, sehingga ada bekas keridhaan Allah bekasnya yakni karamah, ikhlas dan selalu ingat kepada Allah di setiap waktu dan keadaan apapun. Dengan haq dia menegenal Allah dengan sebenar-benarnya dan mengetahui segala perbuatan itu menjadi jelas hakikatnya. Disini ada timbal balik ridha antara sang pencipta dengan makhluk yang diciptakannya.

7.         Nafsu kamilah (  النفس الكاملة)

Nafsu kamilah ini menjadi kesempurnaan dan kesempurnaan itu menjadi thab’an sehingga nafsu itu selalu tinggi dalam kesempurnaannya dan selalu diperintah untuk agar kembali kpd Allah, selalu perintah jasadnya kepada jalan yang lurus dan pada proses-proses penyempurnaan. Dan tingkatan nafsu ini adalah tajaliyyah sehingga asma dan sifat-sifat Allah ini menjadi jelas, pemilik nafsu ini selamanya bersama Allah, berjalan kepada Allah menuju Allah, kembali dari Allah menuju Allah, jadi tidak ada tempat untuk nafsu ini selain kepada Allah.

Begitulah sedikit narasi tentang tujuh tingkatan nafsu dalam Kitab Tanwirul Qulub.  Nafsu sebagai barang halus bisa bersembunyi melalui hal-hal yang lembut pula. Sehingga seakan-akan ia tidak tampak namun terjadi. Maka dari itu semoga kita selalu mempunyai nafsu yang baik pula. aminn

Semoga bermanfaat.

Oleh : Laeli Zakiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *