Sholat Jum’at Yang Me-Robith pada Pengeras Suara

3 Maret 2020 0 Comments

                                                                         SAMPAIKAH AKU

  ( Baca sampai selesai supaya Tidak salah paham)

Hasil BMK PP. Lirboyo HM Al-Mahrusiyah Putra 

 Deskripsi masalah

       Sholat jum’at merupakan sebuah kewajiban bagi seluruh umat muslim tak terkecuali bagi kaum sarungan di Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah yang merupakan unit Pondok Lirboyo.

 Karena jumlah santri yang terus membeludak, tak jarang ditemukan praktek sholat jum’at yang berbeda-beda dan unik karena faktor yang berbeda pula. Ada yang sholat di sepanjang jalan Lirboyo tetapi gerakannya mengikut pada speaker, ada yang sholat di depan musholla dengan melihat makmum di luar lewat gerbang kecil yang terbuka, 

bahkan ada pula yang tetap sholat di depan musholla meskipun gerbang tertutup rapat dan terkadang sampai terkunci yang tentunya dalam gerakan sholat hanya mengikut pada suara speaker. Dengan demikian, dalam prakteknya mereka melaksanakan sholat tanpa merapatkan barisan (shof) meskipun sebetulnya barisan didepannya masih kosong dengan dalih lebih memilih tempat yang teduh dan aman dari panasnya terik matahari. 

Pertanyaan : 

a. Sahkah sholat jum’at para santri sebagaimana deskripsi di atas ? 

Jawaban :  Hukumnya tidak sah jika gerakannya hanya mengandalkan atau mengikut pada mukabbirushout, akan tetapi harus dengan adanya robith yang diikuti yang akan menyambungkan antara makmum yang dibelakangnya dengan imam. 

Catatan : hail-nya bukanlah hail murur dan ru’yah

Referensi 

# Syarah Yaqut an-Nafis juz 1 h. 32

# Nihayah az-Zain h. 121 

# Fath al-‘Alam juz 2 h. 404

# Bughyatul Mustarsyidin juz 1 h. 146 

# I’anah at-Tholibin juz 2 h. 28-29 

# Hasyiah al-Jamal juz 2 h. 50

# Mughni al-Muhtaj juz 3 h. 278 

b. Apakah praktek di atas masih mendapatkan fadhilah jama’ah ? 

Jawaban :

 – Menurut Imam Ibnu Hajar, tidak mendapatkan fadhilah jama’ah dan fadhilah shof.

 – Menurut Imam Romli,  tidak mendapatkan fadhilah shof hanya mendapatkan fadhilah jamaah saja. 

Catatan : keadaan panas dalam deskripsi belum bisa ditasaurkan (digambarkan) sebagai udzur karena belum bisa berdampak kekhawatiran pada jiwa musholi. 

Referensi :

# Nihayah az-Zain juz 1 h. 121

# Hasyiah Qolyubi wa Umairoh juz 1 h. 275 

# Fatawa ar-Romli juz 1 h. 106-141 

# Hasyiah Bujairomi ‘ala al-Khotib juz 2 h.  

# Mughni al-Muhtaj juz 3 h. 197 

# Hasyiah Bujairomi ‘ala al-Minhaj juz 3 h. 241 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *