Sudah menjadi rutinitas setiap hari selasa, penulis melahap ilmu-ilmu dari beliau ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyah. Sebenarnya rutinitas ini mengaji kitab kasifatussaja ( Syarah safinatunnaja) namun beliau selalu menambah dengan hikayat-hikayat para ulama yang dapat menambah wawasan ibrah bagi kita.

 Dan salahsatunya penulis mendapatkan hikayat yang begitu menarik tentang ayah dan dua anak dalam masa pengembaraan masa mudanya. 

Putri terakhir Mbah Yai Imam Yahya Mahrus ini menceritakan hikayat dari sebuah kitab karangan Abuya Sayyid Muhammad yaitu kitab nihayatul ‘izzi wa syarof . 

Pada waktu itu ada seorang ayah yang mempunyai dua putra laki-laki yang bisa dirasa sudah pantas untuk mengembara mencari jati dirinya, kemudian sang ayah menyuruh kedua putra lelakinya untuk pergi sejauh-jauhnya dari rumah dan bebas mau kemana mereka akan membawa diri mereka pergi. Mereka berdua berpisah diujung desa karena memiliki tujuan dan tempat yang berbeda.

Sepuluh tahun kemudian datanglah saat bagi mereka untuk kembali kerumah. Setelah tiba dirumah sang ayah bertanya kepada kedua putranya, sebut saja Zaed dan Umar. “wahai Zaed putraku, apa yang engkau dapat selama mengembara sepuluh tahun ini?” tanya ayah kepada putra pertama.

“Wahai ayah, selama sepuluh tahun, saya mencari ilmu untuk bekal kehidupan saya di dunia dan di akhirat kelak bersama ulama, ini ayah…” Jawab Zaed dengan tenang dan memberikan buku beserta kitab-kitab selama ia mencari ilmu.

Dengan raut wajah yang bahagia sang ayahpun menjawab dengan senyum yang sangat lebar dan menerima buku dan kitab putranya. “ wahai putraku, aku sungguh bangga denganmu, semoga ilmu yang selama ini engkau cari dapat berguna untuk sesama”.

“terimakasih ayah.”

Kemudian sang ayah bertanya pada anak yang kedua.

“wahai Umar anakku, apa yang engkau dapat selama sepuluh tahun ini?” Tanya sang ayah berharap jawaban anaknya kedua juga memuaskan. Namun….

“Ayahku, selama sepuluh tahun ini aku mengembara ke sebuah goa, disana saya beribadah dengan rajin dan istiqomah. Namun tiba-tiba saat saya beribadah ada seekor tikus yang berlari kesana kemari, dan itu membuat saya tidak khusyuk ayah. Lalu saya pukul kadal itu sampai mati, akan tetapi saat saya melanjutkan ibadah, saya malah kepikiran dengan kadal emas tikus yang saya pukul tadi, alhasil saya kalungkan saja tikus tersebut di bahu saya, karena saya takdzim dengan hewan ciptaan allah tersebut” Jawab umar dengan bahagia.

“Astaghfirullah, wahai putraku . apakah engkau tau jika bangkai itu najis? Dan engkau sholat telah membawa najis”. Sang ayah yang awalnya bahagia karena keistiqomahan anaknya beribadah seketika kaget mendengar cerita putra keduanya.

“saya tidak tau ayah, lalu bagaimana dengan ibadahku ayah?”

“ibadahmu selama sepuluh tahun sia-sia anakku , karena ibadah membawa najis itu tidak boleh, dan hukumnya tidak sah. Maka kamu harus mengulang ibadah solatmu selama sepuluh tahun tersebut”. Nasehat ayah pada putra keduanya.

“dan ketahuilah satu hal lagi putraku, berpindahlah engkau ke jalan ilmu terlebih dahulu sebelum engkau mengarungi sisi kehidupan yang lainnya. Karena sebaik-baiknya bekal kehidupan adalah ilmu yang bermanfaat dan juga diamalkan.” Pesan sang ayah di akhir perbincangan, sedangkan sang anakpun tertunduk malu sembari menyesali hal yang telah ia lakoni.

Begitulah sedikit kisah tentang seorang ayah yang mempunyai dua putra dengan pengembaraan yang berbeda, dari masalah diatas maka dapat disimpulkan bahwa amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Maka mencari ilmu sangat wajib dilakukan bagi kita, sebelum melakukan sebuah amal.

Seperti riwayat Imam Ghozali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin

 لعلمُ بلا عملٍ جنونٌ، والعملُ بغيرِ علمٍ لا يكونُ  

“ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan amalan yang sia-sia”

 

Oleh: Laeli Zakia

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *