“Ciri dzuriyyah yang diridhoi Allah SWT yaitu yang karakter leluhurnya itu terjaga”, tutur KH. Bahaudin Nur Salim atau yang lebih akrab disebut Gus Baha dalam acara Majelis Sholawat Kubro ke-VIII di Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah. Gus Baha menjelaskan bahwa menjadi dzuriyyah itu harus bisa meneruskan perjuangan para leluhurnya. Oleh karena itu, dalam surah yusuf ayat 38, Nabi Yusuf AS mengatakan “saya ngikuti jejak leluhur-leluhur kami, Ibrohim Ishaq dan Yaqub.”  Dalam ayat ini yang dimaksud oleh Nabi Yusuf AS dengan  mengikuti leluhur adalah dengan tidak melakukan syirik kepada Allah SWT, sebab para pendahulu beliau merupakan sosok yang sangat beriman sehingga banyak yang diangkat menjadi nabi.

 “Makanya ketika saya belum hafal alquran bapak (abah Gus Baha) ngendikan, ha’ koe kudu ngapalke qur`an. koe kepaten obor nek sampe gak ngapalne” tambah Gus Baha. Hala ini bukan tanpa alasan sebab abah, kakek dan para pendahulu Gus Baha merupakan seorang yang Alim dan hafal Al-Qur`an.  Gus Baha menganalogikan, misalnya bapak, kakek dan leluhurnya bisa membaca kitab hasyiyah turmusi maka seorang anak harus bisa membacanya juga. 

Sebab andaikata dia tidak bisa membaca kitab tersebut, maka keturunannya akan ada alasan untuk tidak bisa membaca kitab tersebut. Itulah maksud dari perkataan abah Gus Baha mengenai kepaten obor. sehingga makna ringkasnya adalah sebagai dzuriyyah (keturunan) kita harus bisa melestarikan apa yang menjadi perjuangan para pendahulu. Sekali kita memutuskan api perjuangan tersebut, kita akan kehilangan selama-lamanya. 

“ Saya membayangkan andaikan Mbah Maimun (KH. Miamoen Zubair) bukan seorang yang alim,  maka Mbah Zubair (KH. Zubair, ayah KH Maimoen Zubair) akan terlupakan” ujar Gus Baha.

Beliau menambahkan “Kalau seandainya kakek kita alim sedangkan kita berdagang atau malah melakukan hal yang tidak berfaidah maka lorang-orang akan mengira mbah atau bahkan leluhur kita seperti itu”.  Hal ini sejalan dengan teori masyarakat jawa mengenai persoalan keturunan yaitu kacang ora adoh seko lanjare. Artinya, seorang anak atau keturunan itu tidak beda jauh dengan para leluhurnya.

  Oleh sebab itu yang menstatuskan leluhur kita adalah dari kita sendiri. Sekali kita enggan meneruskan apa yang telah menjadi perjuangan beliau-beliau bahkan melakukan perkara buruk,  maka kita akan membuat orang lain beranggapan bahwa leluhur kita berkelakuan seperti apa yang kita lakukan.

Kemudian Gus Baha melanjutkan dengan ibroh tentang Nabi Ibrohim. “Nabi Ibrohim itu diselamatkan oleh Allah SWT dengan mengutus Nabi Muhammad” kata beliau. Peran Nabi Muhammad disini adalah meluruskan pehamaman bahwa Nabi Ibrohim itu bukan seorang yahudi. Beliau menceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW debat terbuka dengan pemuka yahudi, mereka mengatakan bahwa Nabi Ibrohim AS yahudi kemudian turun Surah Ali Imron ayat 66.  Apa yang diutarakan oleh kaum yahudi merupakan statemen yang tidak objektif sebab Nabi Ibrohim AS tidak mungkin seorang yahudi. Kenapa bisa begitu? Sebab kurun waktu adanya yahudi dan zaman Nabi Ibrohim itu terpaut jauh. Tidak mungkin seseorang mengikuti keturunannya yang jauh dari orang tersebut. Hal tersebut merupakan suatu kemustahilan, ibarat seorang buyut yang mengidolakan cicitnya sedangkan kurun waktunya jauh sekali.

Didalam tausiyahnya, Gus Baha meceritakan sebuah kisah Inspiratif di zaman Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman. Dikisahkan bahwa ada kakak beradik yang sama-sama mempunyai seorang anak. Anak  mereka mempunyai kemiripan sehingga tampak seperti saudara kembar

. Suatu ketika anak dari salah satu kakak beradik tersebut meninggal karena diterkam oleh serigala. Karena fisik dari anak tersebut sama persis dengan anak yang meninggal mereka pun berebut klaim atas anak tersebut. Kemudian mereka mengadu kepada Nabi Dawud atas perkara mereka. “ wahai Nabi Dawud, kami meminta putusan hukum darimu. kami meminta pendapatmu, siapakah ibu yang berhak atas anak ini ” ujar mereka berdua usai menceritakan kronologi kejadian tersebut. “ Setelah menimbang perkataan kalian, aku memutuskan bahwa yang berhak atas anak ini adalah Si Adik” kata Nabi Dawud setelah menimbang alasan dari SI Adik yang sangat meyakinkan. “Saya tidak setuju degan keputusan tersebut” sangkal Nabi Sulaiman.

Kemudian Nabi Sulaiman diberi izin oleh ayahnya yaitu Nabi Dawud untuk memutuskan perkara ini. “Bawakan aku sebilah pedang” pinta Nabi Sulaiman pada pelayan. Kemudian Nabi Sulaiman meletakkan anak tersebut diatas meja. “Aku tanya sekali lagi, siapa ibu sesungguhnya dari anak ini?” tanya nabi Sulaiman kepada dua perempuan tersebut. “ itu anakku, aku adalah ibunya” uajr Si Kakak. “Bukan, aku adalah ibunya” sergah Si Adik tak mau kalah. “Baiklah,  karena kalian berdua tidak mau mengalah, maka aku putuskan untuk membelah bayi ini. Akan aku bagi rata kepada kulian supaya tidak saling berebut” tegas nabi Sulaiman.

Sesaat sebelum mata pedang menyentuh kulit anak tersebut Si Kakak menjerit histeris dan menangis. “Jangan, jangan anda belah anak itu. Aku rela. Aku pasrah anak itu bersamaya” jerit Si Kakak sambil berurai air mata. Setelah melihat hal tersebut, Nabi Sulaiman memeberikan hak klaim kepada Si Kakak.” Sebab secara logika tidak akan ada seorang ibu yang rela anaknya terluka “ dawuh Gus Baha menutup cerita tersebut.

BY : Alwi Maftuhul huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *