Semangat ngaji para santri dan Stakeholder Pondok Pesantren
patut diacungi jempol, ketika santri dipulangkan gara-gara pandemi, otomatispenguni pesantren menjadi melompong.

Kyai sebagai pimpinan tertinggi lembaga tertua di Indonesia
ini memanfaatkan teknologi media untuk tetap syi’ar ilmu, li i’lai kalimatillah, asyrul ilmi dengan cara mengaji Via Streaming.

Jadilah berbagai Platform Media Sosial full dipenuhi dengan
ngaji-ngaji Streaming, Namun ngajinya disini unik, tidak hanya sekedar ulama berceramah seperti yang kaprah kita temui, akan tetapi Kyai atau Ustadz membacakan kitab kuning mu’tabar dengan ala ma’na pegon jawa. Metode ini biasa kita sebut dengan Bandongan.

Ya Bandongan Online, santri yang biasanya mengerubungi Kyai, gara-gara pandemi ini yang adirubung adalah gadget maaupun laptop sambil soundnya disambungkan ke speaker Aktif sebagai pengeras suara. Telihat sedap dipandang, karena biasanya pemuda merubung gadget identik dengan mabar.

Yang dilakukan kaum pesantren ini seolah mengamalkan qoidah
fiqih  yang berbunyi

اﻟْﻣﺣﺎﻓظﺔ ﻋﻟﯽ اﻟﻘدﯾم اﻟﺻﺎﻟﺢ واﻻﺧذ ﺑﺎﻟﺟدﯾد اﻻﺻﻟﺢ  (memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Ya, Memlihara  Metode ngaji  yang sudah lama berlaku (ngaji bandongan), dan mengambil perkara yang baru dan bisa dikatakan lebih baik (Live
Streaming).

Kenapa dikatakan lebih baik, karena selain menimbulkan
maslahah dari segi  ruang masyarakat yang
bermedia sosial, sistem ngaji Streaming ini juga menjadi sebuah Dar’ul Mafasid, atau mencegah kerusakan/ keburukan, Kok bisa dikatakan demikian? Bulan Sya’ban dan Ramadhan adalah masa dimana santri menikmati masa liburan, terbebas dari segala tugas pondok, dan peraturan-peraturan yang menjadi momok.

Nah, bagi santri yang tidak pulang sudah pasti ngaji andongan dengan nyaman di pesantren, akan tetapi yang sudah dirumah biasanya keluyuran dolan kerumah teman atau sekedar tamasya, maklum seperti burung lepas
dari kurung.

Karena diberbagai wilayah terkena ilockdown, mereka tidak bisa kemana-mana, jadilah bermalasan dirumah saja, entah nge-game, chat-chatan,
atau berselancar didunia maya yang unfaedah tentunya. Meskipun sebagian dari mereka tetap banyak yang bantu-bantu orang tua.

Nah, dengan hadirnya Ngaji Live streaming ini menjadi solusi itu, santri-santri tetap bisa mengaji, tak cukup santri, Simpatisan dan alumnipun bisa ikut ma’nani. Dan tentunya  jangkauanya pun lebib luas, bisa menerobos ke
pelosok Nusantara.

Hal itu bisa kita lihat melalui komentar yang muncul di Live, ‘ Kaltim hadir, Riau hadir, Lampung hadir, terkadang juga ‘Malaysia hadir’ mereka ramai absen dikolom komentar.

Degan adanya ngaji streaming ini juga menjadi ‘rem’ terhadap
media-media lain yang isinya minim dari ngaji yang biasanya malah digemari santri, seperti Ftv, panggung debat politisi, hingga ajang talkshow selebriti. mereka menjadi teralih perhatianya dengan lebih memilih memutar konten ngaji.

Bagi Masyarakat umum juga menjadi nilai plus tersendiri, dikala sebelum-sbelumnya beranda media sosialdipenuhi dengan kajian salafi-wahabi, setidaknya telah tergeser dengan ngajinya Kyai-kyai yang sedang
dakwah ‘Bil Medsos’ ini.

Dari segi ubudiyah, mereka para tholabul ilmi ini tetap
mendapat keutamaan seperti hadits yang terdapat pada kitab lubabul hadits yang berbunyi : من تعلم باباً من العلم عمل به أولم يعمل به كان أفضل من صلاة ألف ركعة

Artinya: “Siapa yang mempelajari satu bab dari ilmu
yang diamalkan, atay tidak diamalkan adalah lebih  utama dari
sholat 1000 roka’at yang disunahkan” Al-Hadits

Dengan mengaji streaming, selain mengurangi mafsadah, juga
dapat menimbulkan Maslahah. Selain itu meskipun hanya menonton saja lewat
streaming, dengan alasan tak punya kitab atau tidak bisa arab pegon, tetap
mendapat keutamaan. Seperti perkataan Nabi SAW
pada Sahabat Ibnu Mas’ud RA.

“قال النبي صلى الله عليه وسلم لابن مسعود رضي الله عنه: {يَا ابْنَ مَسْعُوْدٍ، جُلُوْسُكَ سَاعَةً فِيْ مَجْلِسِ العِلْمِ، لاَ تَمَسُ قَلَماً، وَلاَ تَكْتُبُ حَرْفًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِتْقِ أَلْفِ رَقَبَةٍ، وَنَظَرُكَ إِلىَ وَجْهِ العَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَلْفِ فَرَسٍ تَصَدَّقْتَ بِهَا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَسَلاَمُكَ عَلىَ العَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِبَادَةِ أَلْفِ سَنَةٍ}

Artinya :”Hai Ibnu Mas’ud. Dudukmu satu jam di majelis ilmu engkau tidak menyentuh polpen, dan tidak menulis satu huruf saja, adalah lebih baik bagimu daripada memerdekakan seribu budak. Dan emandangmu pada wajah orang alim. Adalah lebih baik bagimu daripada bersedekah seribu kuda di jalan Allah SWT. dan ucapan salam kamu kepada orang ‘Alim itu lebih baik bagimu dari pada ibadah seribu tahun.”

Harapanya ngaji seperti ini tidak hanya lestari saat pandemi saja. Tapi tetap bisa berlangsung demi sebuah tuntunan dan tontonan berkualitas bagi masyarakat dan Nasyrul ilmi tentunya.

Refrensi:
Kitab Lubabul Hadits, dan Tanqiqul Qoul

Oleh: Ahmad Nahrowi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *