Teladan 4 Tokoh Lirboyo Al Mahrusiyah & Kecintaannya Pada ilmu

Teladan 4 Tokoh  Lirboyo dan Kecintaanya Pada ilmu

Lirboyo adalah nama sebuah desa di Kota Kediri, layaknya pesantren lain di Nusantara yang Mashur  dengan nama desanya daripada nama aslinya. Bersama dengan pesantren lain di wilayah kediri lirboyo menjadi salah satu yang paling menonjol. Kita ketahui bahwa setiap pondok pesantren memiliki ciri khas dan budaya yang turun- temurun diwariskan dari sang mu’asis pesantren tersebut, dan tentunya sangat bervariasi antara pesantren yang satu dengan lainnya. Ada tiga tokoh yang menjadi pusat perhatian banyak khalayak hingga dijadikan buku yaitu “Tiga Tokoh Lirboyo”. Tiga tokoh tersebut salah satunya yaitu mu’asis pondok lirboyo dan dua tokoh lainnya yaitu menantunya.

Dalam hal ini semua model pergerakan dan arah pondok pesantren lirboyo tidak lepas dari penanaman dasar-dasar oleh sang mu’asis dan dilanjutkan pada generasi-generasi penerusnya, hal ini lah sebab musabab yang menjadikan pondok lirboyo hingga sekarang semakin dilirik  dan menarik bagi masyarakat karena berhasil membentuk atau mencetak kader-kader pesantren yang militan untuk tetap konsisten pada target pengembangan nilai religius dalam bidang kemasyarakatan dan pendidikan.

Coba sekarang kita lihat apa saja hal yang ditinggalkan oleh KH. Abdul Karim sebagai Mu’asis pada Pondok Lirboyo?

KH. Abdul Karim menurut pandangan penulis adalah sosok yang sama seperti haliyah yang di ajarkan oleh Baginda Rosululloh SAW, dimana  Rosululloh SAW semasa hidupnya mencurahkan segala materi, tenaga dan waktunya hanya untuk umat dan agama. Begitu juga KH. Abdul Karim dalam pandangan penulis juga termasuk contoh teladan yang itba’ pada akhlaq Rosululloh SAW.

Secara material  KH. Abdul Karim memiliki sepetak rumah dan itupun dalam kondisi yang ala kadarnya. Keseharian KH Abdul Karim dihabiskan untuk membimbing dan mendidik santri. Beliau tak pernah berhenti untuk mendoakan santri santrinya sampai lupa hanya untuk tidur walau sebentar.

Pernah penulis mewawancarai langsung dengan murid beliau, yaitu simbah yang rumahnya berada di sebelah barat Pondok Mahrusiyah. Simbah tersebut menuturkan keseharian KH. Abdul Karim. Keseharian simbah ini yaitu setelah subuh ngaji bareng dengan KH Abdul Karim, sampai hampir dhuhur, setelah itu sore juga ngaji dan malam pun ba’da isya’ ngaji lagi sampai larut malam. Setelah ngaji malam pun beliau tidak langsung istirahat, seperti ngendikane KH Abdul Aziz Mansur

“KH Abdul Karim tidak akan tidur sebelum mendo’akan santri-santrinya.”

Sejenak kita tarik cerita kebelakang tentang kegigihan beliau dalam mencari ilmu. Hal ini sangat terasa dari cerita beliau, semangat yang pantang menyerah untuk mencari ilmu. Diceritakan bahwa beliau pernah menempuh jarak berkilo-kilo dari Magelang, Jawa Tengah menuju Bangkalan, Jawa Timur hanya dengan berjalan kaki. Beliau melewati segala halang dan rintangan demi dapat belajar ke seberang daratan. Ditengah perjalanan pun beliau mencari tambahan perbekalan dengan berbagai cara yang halal. Dari perjalanan itupun beliau menemui banyak guru salah satunya di Nganjuk dan Kediri. Sampai di Bangkalan banyak tantangan ujian yang diberikan Syaikona Kholil, untuk mengukuhkan i’tikad beliau mondok di Kademangan Bangkalan.

Ada satu hal yang sangat menakjubkan, karena terlalu sering membuka buka/ pelajari tulisan ma’na nya kitab jurumiyah sampai-sampai tulisannya tidak terlihat. Hal lain yang juga menakjubkan yaitu beliau menghafalkan bait-bait Nadzom Al-Fiyah sambil berendam di air, sambil menunggu baju satu-satunya yang beliau cuci sampai kering.

Dalam hal keluarga, beliau punya waktu tersendiri untuk mendidik putra-putrinya, hingga saking tawadu’ dan cintanya pada sang guru, di penghujung hayat, beliau bepesan pada santri-santri di pondok “aku dongakno diakoni dadi santrine Kyai Kholil”

Sikap yang militan, telaten, ulet dan istiqomah ini yang menjadi kiblat bagi generasi sesudahnya. Contohlah KH Marzuki Dahlan atau yang lebih terkenal dengan sebutan Mbah Yai Juki, bisa kita lihat betapa (betapa opo ki????) sebagai penerus/pengasuh pondok pada periode ke-dua melanjutkan haliah KH. Abdul Karim. Mbah juki itu misal ada yang bertamu pada beliau, orang yang bertamu itu diajak ngobrol tapi pandangan beliau tidak akan lepas sedikitpun dari kitab, sambil menjamu tamu.

Lain lagi cerita yang khas dari KH. Mahrus Aly. Salah satu mantu dari KH Abdul Karim. Cerita yang masyhur di kalangan santri adalah dahulu ketika beliau menjadi santri di lirboyo , beliau membuat gubug tersendiri yang amat kecil diatas pohon untuk tempat khusus belajar, dan pintu gubug itu dibuat kecil sehingga ketika sudah masuk sulit keluar, dan akhirnya beliau bisa mengakali nafsu untuk tetap fokus dan mempeng didalam pondok.

Sungguh penulis yang semoga juga diakui santri beliau sangat kagum dengan Kyai Mahrus meski penulis di Lirboyo tidak terlalu lama, sekitar 6 tahun tapi alimnya masyaalloh( ini mau di tulis juga ttg kealiman penulis? Hahah apa tidak terlalu menyombongkan diri???? 😬) . Itu karena usaha/ ikhtiar beliau dalam menimba ilmu di Lirboyo. Apalagi Mbah Yai Mahrus dalam ikhtiar mencari sanad keilmuan sangat berani berkorban. Beliau tak segan mengeluarkan biaya berapapun atau usaha sekeras apapun untu menyambung sanad keilmuanya.

Oleh: Rika Gunawan

2 thoughts on “Teladan 4 Tokoh Lirboyo Al Mahrusiyah & Kecintaannya Pada ilmu

  1. Alhamdulillah jadi tau sejarah dan informasi terkait ponpes lirboyo ini…
    Sehingga saya pribadi dapat termotivasi oleh para muassis dan para ulama di pondok ini, jadi tambah semangat dan lebih mencintai ilmu lagi..لذة العلم
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *