Nasihat KH Imam Yahya yang membuat Gus Nabil Meneteskan Air Mata

Pada pertengahan bulan ramadhan kemarin, penulis yang sedang khusu’ memaknai kitab mabadi’ fiqih agak terbengong sebentar,kemudian bertanya-tanya ada apa gerangan yang terjadi, sambil menegok kanan kiri, suasana hening, bak tenggelam ditengah gelapnya malam.

Lantunan makna Jawa gandul yang dibacakan Agus H. Nabil Ali Utsman tiba-tiba berhenti. Benar saja, beliau yang akrab disapa dengan Gus Nabil melalui speaker musholla HM Al-Mahrusiyah, terdengar sedang menangis sesenggukan, tak ayal seluruh santri juga ikut terbawa suasana haru.

Lantas apa yang membuat Gus Nabil menangis? Yaaa….Pengajian kitab yang malam itu sampai pada bab warisan, Gus Nabil teringat pada suatu pesan abah beliau KH Imam Yahya, dengan terbata-bata beliau menyampaikan pesan abah Yai Imam “ jangan sampai mempunyai rasa iri kepada saudara-saudaramu.” Seluruh santri masih membisu, terbawa suasana haru biru, tidak ada yang berani bercakap-cakap sedikitpun, sambil menunggu dawuh apa yang akan disampaikan Gus Nabil.

Kemudian beliau yang sambil menyeka air mata yang membanjiri pipinya menyampaikan “ karena iri itu berasal dari bahasa jawa, kemiren yang memiliki arti mata kaki,orang yang memiliki rasa iri kepada saudara-saudaranya itu tempatnya dibawah.” Maka jangan sampai memiliki rasa iri, terlebih kepada saudara-saudara kita, maksud dari ‘tempatnya dibawah’ ini adalah disamakan dengan mata kaki, notabene organ tubuh yang berada dibawah. Alangkah baiknya kita memiliki rasa legowo dengan apa yang kita terima. terlebih lagi dengan pembagian harta warisan Pembacaan kitab malam itu agak berhenti sekita 15menitan, Gus Nabil benar-benar menghayati dengan pesan yang disampaiakan oleh abah beliau.

Lebih lanjut masih dimalam yang sama, karena kebetulan pengajianya sampai pada bab waris, beliau berpesan lagi kepada santri “Harta warisan itu malati, lek dudu bagiane biasane bangkrut.” Malam itu juga bebarengan khataman kitab mabadi’ fiqih, meskipun yang ikut ngaji tidak terlalu banyak dengan tahun kemarin, gegara pandemi ini.

Di akhir pembacaan kitab Gus Nabil berpesan kepada santri untuk tidak lupa memuthola’ah kitab, selain itu beliau juga berpesan untuk menjaga adab kepada kitab, seperti menaruh ditempat yang atas, tidak kebalik ketika menaruh, senantiasa dalam keadaan suci dan selalu memakai peci ketika mengaji. Itulah beberapa nasihat yang penulis tangkap sewaktu ngaji bandongan mabadi fiqih bersama Gus Nabil, yang bertempat di Musholla Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah, setiap hari pukul 24.00 WIB. Sekian semoga bermanfaat.

*Ahmad Nahrowi -Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *