Ada sebuah benda unik yang pernah penulis jumpai di pondok pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo. Sebuah botol hitam berukuran sedang dibiarkan menggantung di langit-langit kamar bagian atas dengan diikat oleh tali dibagian tutupnya. Tidak ada yang tahu untuk apa botol tersebut bergelantungan di sana. Menurut cerita dari kaka kelas kami, dan juga cerita dari mulut ke mulut, isi dari botol tersebut adalah jin yang ditangkap oleh teman-teman santri yang dikenal indigo, mampu melihat sesosok mahluk halus yang tidak mampu dilakukan oleh kebanyakan orang pada umumnya.

            Ada sebuah benda unik yang pernah penulis jumpai di pondok pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo. Sebuah botol hitam berukuran sedang yang dibiarkan menggantung di langit-langit kamar bagian atas dengan diikat oleh tali dibagian tutupnya. Tidak ada yang tahu untuk apa botol tersebut bergelantungan di sana. Menurut cerita dari kakak kelas kami dan juga cerita dari mulut ke mulut, isi dari botol tersebut adalah jin yang ditangkap oleh teman-teman santri yang dikenal indigo—mampu melihat sesosok makhluk halus yang tidak mampu dilakukan oleh kebanyakan orang pada umumnya.

Letaknya di kamar M: 8. Lorong as-Syafi’i. Rekan-rekan seangkatan yang kamarnya satu lorong bisa dipastikan tahu tentang hal ini. Namun, untuk menceritakannya, sepertinya banyak yang ketakutan. Pernah suatu hari, saat acara rutinan ngopi, salah satu dari kami membahas botol tersebut dan dibahas panjang lebar, itu pun harus berakhir dengan ending yang menyeramkan. Selain karena cuaca tidak mendukung, suasana saat itu juga seakan memaksa kami untuk tidak menceritakan segala hal buruk di pondok pesantren.

Lambat laun, saat rekan seangkatan kami menginjak kelas tiga aliyah, misteri ini terpecahkan. Salah satu rekan kami yang terkenal berani dengan iseng mengambil botol tersebut dan membuka tutupnya dengan dipenuhi tanda tanya besar tentang keajaiban yang akan terjadi selanjutnya.

Yang membuat kami harus menahan tawa adalah, saat botol tersebut dibuka, isinya tak lebih dari selembar kertas tagihan iuran pondok pesantren. Kakak kelas kami dulu mungkin membuat ide gila ini untuk menakut-nakuti kami saja agar kami tidak sering-sering nongkrong di malam hari.

 Salah satu teman kami dengan penuh emosi merobeknya dan hampir membanting botol tersebut untuk melampiaskan kebenciannya, tapi tindakannya tersebut segera dicegah oleh santri yang lain. Selama dua tahun ini, ia merasa dibodohi oleh cerita dongeng yang sengaja diciptakan oleh kakak kelas yang sukses menakut-nakuti kami.

***

Seringkali kita merasa takut oleh hal-hal yang berasal dari pikiran-pikiran buruk yang tersimpan dalam memori otak kita sendiri. Kita merasa khawatir tentang adanya sesuatu yang sebenarnya tidak akan pernah terjadi di kehidupan kita. Andai kita tahu penyebab awal masalah ini adalah alam bawah sadar kita yang merubahnya menjadi realita dan menuntut kita agar sudi menghabiskan hidup hanya untuk percaya pada sesuatu yang bisa dibilang mustahil untuk bisa dicerna oleh akal sehat.

Contoh kecilnya adalah ketika kita ingin mengikuti lomba dan kita merasa minder apakah bisa memenangkannya atau tidak. Jika muncul pikiran seperti ini, sudah pasti jawabannya adalah tidak. Padahal hati dengan mantap menjawab iya saat pikiran-pikiran buruk kita berkata tidak padanya.

Contoh lain yang juga semakna dengan hal di atas adalah, saat para santri sudah pulang nanti dan dipasrahi masyarakat setempat sebuah mushola kecil untuk merawatnya dan mengisi mushola tersebut dengan pengajian kecil-kecilan dengan mengundang para warga. Jika kita mengandalkan pikiran-pikiran buruk kita, seakan hal tersebut terdengar begitu rumit dan membingungkan.

Padahal, kita sadar, mengadakan pengajian kecil-kecilan di mushola tidak serumit menjalani beragam aktifitas saat di pondok. Dan sudah pasti harapan untuk tidak bisa melakukannya relatif kecil. Kemungkinan terbesarnya adalah kita mampu melakukannya. Hanya saja, pikiran-pikiran buruk yang dengan bijak terus saja mendoktrin kita, memaksa kita untuk berkata tidak saat kali pertama diberitahu tentang hal tersebut. Alhasil, masyarakat menjadi tidak lagi percaya pada seorang santri yang sudah bertahun-tahun mondok. Sebab, untuk menghidupi mushola saja sudah menolaknya, lebih-lebih diberikan wewenang untuk memimpin warga desa.

Letak korelasi antara mitos tentang botol dan contoh kecil yang digambarkan oleh alumni pesantren di atas adalah tentang bagaimana agar kita tidak mudah memercayai sesuatu yang belum terjadi atau belum kita lakukan.

Jika kita belum melangkahkan kaki untuk bergerak dan mencobanya, maka jangan pernah berkata tidak untuk sesuatu yang menurut kita mustahil dilakukan. Buang pikiran-pikiran buruk yang mengintai kita. Lawan dengan keyakinan penuh akan keberhasilan yang akan didapat nantinya.

Contoh botol yang menggantung di atas tadi adalah ketakutan yang ada pada diri kita. Yang bisa kita lakukan adalah melawannya, meneriaki perang terhadap alam bawah sadar kita yang hanya membuat kita berkata tidak pada sebuah hal yang seharusnya bisa kita lakukan dengan mudah.

@Kafrawi, ~Santri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *