SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

I

Terbit 31 Maret 2021 | Oleh : NUNK | Kategori : Importan

Isra’ Mi’raj Negoisasi Shalat dan Motif Nabi Musa Idiom الصلاة عماد الدين yang berarti sholat sebagai tiang agama memiliki maksud bahwa sholat merupakan intisari dari ajaran dan tujuan dari syariat. Shalat adalah ikrar seorang hamba dengan berulang kali mengucapkan kalimah syahadat. Shalat adalah zakat diimplementasikan dengan pemanfaatan waktu dan tenaga untuk melakukan ibadah. Shalat adalah puasa, sebab didalamnya terjadi imsak atau menjaga diri sejenak dari kenikmatan-kenikmatan duniawi. Shalat adalah haji, dengan makna menghadap diri ke Ka’bah. Perintah sholat 5 waktu telah disyariatkan bersamaan dengan mementum isra’ mi’roj yang menguji rasionalitas bangsa Arab pada saat itu. Rupanya awal syariat memerintahkan bahwa umat Kanjeng Nabi Muhammad harus melakukan sholat 50 waktu sehari semalam. Setelah menerima titah tersebut Nabi Muhammad turun hingga sampai di langit 6. Disini Nabi Muhammad ditanya oleh Nabi Musa perihal perintah apa yang telah diemban Nabi Muhammad untuk umat. Nabi Muhammad pun menceritakan perihal perintah sholat untuk umatnya. Nabi Musa memberikan saran agar Nabi Muhammad kembali menghadap kepada Allah agar memberikan keringanan terhadap kewajiban sholat ini. Sebab, perintah ini dinilai terlalu berat untuk umat Nabi Muhammad yang memiliki fisik dan mental yang lebih lemah berkali-kali lipat dibandingkan Bani Israel. Akhirnya terjadilah negosiasi antara Nabi Muhammad dengan Allah perihal kewajiban sholat. Kemudian Nabi Muhammad turun dan bertemu lagi dengan Nabi Musa. Mendengar perintah sholat masih terlalu berat Nabi Musa menyarankan agar meminta negosiasi ulang kepada Allah. Nabi Muhammad pun menghadap Allah untuk meminta keringanan lagi. Hal tersebut terus berulang hingga mencapai 5 kali sehari jumalah sholat yang harus dilakukan umat Nabi Muhammad. Nabi Musa kemudian menyarankan lagi agar Nabi Muhammad meminta keringanan sholat. Nabi Muhammad menjawab قد راجعت إلى ربي حتى استحييت منه “Telah berulang kali aku kembali menghadap Tuhanku, hingga aku merasa malu kembali kepada-Nya”

 

Menurut pendapat al-Hafidz as-Syamiy, keengganan Nabi Muhammad untuk melakukan saran Nabi Musa yang telah mencapai hitungan kesepuluh kalinya itu sebab ada dua motif. Yang pertama, sebagai sebuah saran yang telah mencapai batas pantas maka disebut dengan desakan dan cara menyikapinya yaitu dengan tidak mengindahkannya. Yang kedua, Nabi Muhammad berfirasat bahwa keputusan ini merupakan final yang tidak akan dikurangi lagi sehingga Nabi Muhammad merasa malu untuk meminta keringanan lagi. Selain itu, dalam Kitab Shohih Muslim hadist no. 234, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad, يا محمد إنهن خمس صلوات كل يوم و ليلة لكل صلاة عشر فذلك خمسون صلاة. “Wahai Muhammad, sesungguhnya shalat itu lima kali dalam sehari semalam. Setiap sekali sholat dilipat gandakan sebanyak sepuluh kali sehingga berarti lima puluh kali shalat”. Jadi memang secara kuantitas sholat telah diringankan dari 50 kali menjadi 5 kali sehari, namun sholat tersebut secara hakikat pahalanya tetal sama dengan sholat 50 kali. Dalam peristiwa negoisasi sholat terdapat motif dan faktor tersembunyi dari Nabi Musa yang memegangi peran sebagai pemberi saran bahkan mendesak Nabi Muhammad agar meminta keringanan. Yang pertama, mengapa yang memberikan saran tersebut malah Nabi Musa yang diketahui posisi beliau di langit ke-6 sedangkan di langit 7 yang paling dekat dengan Arsy terdapat Nabi Ibrahim? Jadi Nabi Musa adalah seorang Nabi yang memiliki gelar sebagai Kalimullah sebab Nabi Musa telah diperdengarkan Kalam Allah tanpa lantaran apapun. Gelar Kalimullah ini, membuat Nabi Musa memiliki tugas sebagai idlal atau pemberi petunjuk dan inbisat atau pemberi kebahagiaan. Hal ini terimplementasikan dalam peristiwa Nabi Musa sebagai pemberi saran kepada Nabi Muhammad atas keringanan perintah sholat sesuai dengan tugas yang diemban beliau. Sedangkan Nabi Ibrahim, beliau memiliki gelar Khalilullah yang berarti sahabat/karib Allah. Artinya, Nabi Ibrahim sangat dekat dengan Allah. Sebagai Khalilullah, Nabi Ibrahim tentunya akan ridha wa taslim dengan ketetapan dan perintah Allah. Hal ini dibuktikan dengan perintah untuk menyembelih putranya ketika Nabi Ibrahim menjalankan tugas sebagai Nabi di muka bumi.

Yang kedua, saran bertubi-tubj yang dilakukan Nabi Musa merupakan motif tersembunyi. Tujuan tersebut adalah Nabi Musa hendak mengobati kerinduan dan hasrat yang telah lama dipendam untuk berjumpa serta memandang Allah SWT. Meski belum diizinkan untuk memandang Allah, namun setidaknya hasrat kerinduan kepada Allah dapat terobati dengan memandang manusia yang telah memandang Allah SWT. Sebab, dalam diri manusia yang memandang-Nya terpatri cahaya ilahiyah yang sangat terang benderang dan semakin bersinar dengan berulang kali memandang-Nya. Oleh sebab itu Nabi Musa mendesak Nabi Muhammad agar terus menerus kembali menghadap Allah agar cahaya Ilahiyah dalam diri Nabi Muhammad semakin bersinar dan kerinduan serta hasrat kerinduan Nabi Musa dapat terobati dengan memandang manusia yang talah memandang-Nya. Wallahu a’lam bisshowab

 

 

#artikelmahrusy 📷

SebelumnyaPPDB 2021 SesudahnyaDo'a Malam Nisfu Sya'ban

Berita Lainnya

0 Komentar